Senin, 09 September 2013

Anak 13 Tahun Itu Bernama Dul



Sudah banyak jalan hidup artis kita bahkan dunia yang tak layak untuk dijadikan contoh apalagi suri tauladan. Artis, selain terkesan di mata masyarakat dengan keglamouran juga sering di identikan dengan gonta-ganti pasangan atau kawin cerai. Sejenak jika saya sejajarkan dan memang begitu fakta di lapangan bahwa pekerja penguasa jagat hiburan ini sebagian besar adalah berparas di atas rata-rata jika dinilai dari kesempurnaan wajah. Yang dibahasakan dengan ganteng untuk pria dan cantik untuk wanita. Namun, jika memang artis sebagian besar adalah berwajah rupawan, kenapa artis identik dengan gonta-ganti pasangan atau kawin cerai. Bukankah setiap nyawa di dunia ini bercita-cita mendapatkan jodoh yang tampan dan ayu. Tidak ada makhluk bernafas bernama manusia di dunia ini yang berdoa pada Tuhan. "Tuhan berilah saya jodoh seorang yang jelek dan berwajah hodoh". Kecuali dengan embel-embel kata "tapi" dibelakangnya. Misal, Tuhan beri saya jodoh yang jelek tapi setia, doa ini biasanya di panjatkan oleh orang yang habis disakiti oleh orang cantik atau orang ganteng. Atau begini, "Tuhan, berilah saya jodoh, jelek gak papa asal tidak membuat saya terlalu sengsara". Doa ini biasanya dipanjatkan berkaitan dengan masalah ekonomi. Intinya di sini, setiap makhluk bernama manusia di dunia pasti ingin mendapatkan jodoh yang menawan. Atau, ini sudah kodrat manusia, bahwa jika dia berjodoh dengan orang jelek tidak mau setiap hari, tiap bangun tidur terkejut, seakan melihat hantu. 

Namun saya yakin inti perkawinan bukanlah terletak di situ, pada ketampanan dan kecantikan, mungkin yang utama adalah rasa nyaman melintasi hidup ini secara berpasangan. Untuk menghadapi hambatan dan rintangan di kemudian hari. Tapi ternyata wajah cantik dan tampan seorang artis tidak bisa menjamin dapat menghadapi rintangan hidup dan hambatan dalam sebuah perkawinan. Dul adalah anak Ahmad Dhani musisi nomer wahid Indonesia. Sekarang anak 13 tahun ini menghadapi kasus yang tidak bisa dianggap ringan. Ia mengendarai mobil yang menyebabkan enam orang meninggal dunia. Kejadian ini tentunya adalah sebuah pukulan duka yang mendalam bagi Ahmad Dhani dan Maia Estianti yang sekarang sudah bercerai. Dan lebih lagi adalah kedukaan dari pihak keluarga korban yang meninggal dunia, sebannyak enam orang itu. Kejadian yang berlangsung pada hari minggu pukul 00.45 WIB di tol Jagorawi kilometer 8 itu menurut saya adalah sebuah akibat fatal kelengahan dari orangtua. Karena Abdul Qadir Jaelani(Dul) ini seharusnya belum diperbolehkan mengemudikan mobil menurut undang-undang. Dia belum dapat memiliki surat izin mengemudi karena masih 13 tahun, yang baru genap tanggal 23 Agustus kemarin. Lagipula, apa yang dilakukan oleh anak 13 tahun sedang pacaran dan pulang apel mengantarkan pacar sampai pukul 00.45 wib. 

Lagi, kritikan bagi orang tua, kenapa baru sekarang setelah ada kejadian begini Ahmad Dhani mendatangkan Kak Seto si Psikolog anak. Bukankah seharusnya dia meminta nasehat sebelum kejadian dalam mengurus dan mengasuh anak dengan baik. Terlebih-lebih lagi Dul adalah anak korban broken home. Kenapa baru kini Kak Seto Mulyadi bekas ketua Ham Anak ingin memulihkan kondisi psikologis Dul. Tidakkah lebih baik, lebih dulu "menyehatkan" pikiran orang tuanya, bagaimana mengurus dan mengasuh anak dengan baik.Kini keluarga korban meninggal telah histeris dengan kepergian anggota keluarganya. Meninggalkan sejuta duka yang mendalam, belum lagi kondisi setelah ditinggalkan. Apalagi jika almarhum menjadi tulang punggung keluarga. Dul memang salah, namun menurut saya dia tak patut untuk divonis seperti itu, karena dia juga korban kecelakaan. Bukan saja kecelakaan ini, namun dia juga jadi korban kecelakaan broken home sikap keegoisan orang tua.Jika Dul memang mendapatkan perhatian, kemeriahan ulang tahun, hadiah mobil dan diundangkan pula pacar. Kenapa orang tua, dalam hal ini Ahmad Dhani sebagai orang tua yang mengasuh tidak mengetahui keberadaan si anak sampai pukul 00.45 WIB. Bukankah orang tua yang baik selalu paham dan mengerti akan buah hati. Tampaknya Dul tidak ditempatkan dalam posisi seperti itu. Orang tua Dul lebih menempatkannya pada posisi memperkosa, agar Dul cepat tumbuh dewasa sebelum waktunya. Karena menurut saya Dul lebih membutuhkan kehadiran seorang ibu daripada dihadirkan seorang pacar pada ulang tahunnya. Ia lebih membutuhkan ditanya dan pamit pada orang tua terutama ibu, sebelum bepergian, daripada hadiah sebuah mobil yang justru mendorong anak untuk nyaman berada di luar rumah. 

Dul memang anak seorang selebritis, anak seorang yang glamour, dan anak seorang yang tak kekurangan materi dilihat dari sudut manapun. Namun secara kasih sayang, saya tidak akan membahas ini secara psikolog karena takut kontradiktif dengan yang lebih pakar serta lebih ahli.Kini kejadian telah ditangani oleh pihak yang berwajib. Semoga dapat di dalami dan keluarga korban meninggal dunia dapat terpenuhi rasa keadilanya. Dan ini adalah isyarat kita sebagai orang tua. Bahwa semua kejadian di luar rumah berasal dari dalam keluarga, dari rumah. Jika dalam keluarga kering kasih sayang dan mendapat tekanan maka di luar rumah akan berakibat kekerasan.Kedukaan hanya akan menunggu waktu. Sebaliknya jika dari rumah kelimpahan kasih sayang maka ketika keluar dari rumah walau mendapatkan tekanan akan dihadapi dengan kasih sayang bekal dari rumah, jika kewalahan akan mendapatkan kekeringan hati, balik ke rumah akan tercurahi kembali kekeringan dengan kasih sayang keluarga.Semoga kejadian ini dapat jadi pelajaran dan tidak terulang. Kepada keluarga yang ditinggal, mungkin ini sudah jadi takdir dari yang kuasa melalui kejadian tersebut. Semoga dapat berbesar hati dan ikhlas. Dan Dul semoga lebih dapat mendapatkan kasih sayang, didikan dan perhatian, karena hukuman tidak akan dapat menyelesaikan masalah pada seorang anak-anak selain mendidik. Sebagai pelajaran bagi orang tua lain agar dapat memperhatikan anaknya. Orang tua Dul harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena lalai mengawasi anak dan menyebabkan anak menghilangkan nyawa orang lain. Seperti yang di ungkapkan oleh Ketua Indonesian Police Watch, "Harus ada pihak yang bertanggung jawab secara hukum. Jangan sampai kasus yang melibatkan anak Hatta Rajasa terulang pada kasus Dul, di mana kasus Putra Hatta rajasa penuh rekayasa hingga mendapatkan keistemewaan dan tidak dihukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya ".

Sumber : Kompasiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar